Langit petang menjadi saksi perbincangan
Dua pasang bola mata menari-nari
Namun tak saling beradu
Mendung yang menyelimuti,
memperlihatkan rasa takut, cemas nan ragu
Angannya melayang di pucuk kepala
Menerka rasa yang terbendung dalam qolbu
Puluhan mata mengawasi penuh heran
Ketika dua gadis berparas ayu itu,
saling mencerca melontarkan amarah
Diiringi buliran sesal nan melodi yang tak beraturan,
oleh salah satu pemuda di Tropisland
Mungkin angin panas membuat mereka amnesia sesaat,
bahwa mereka berada ditengah-tengah para penggemar kopi
Yang tampak nyata petang itu,
hanyalah darah mendidih yang mengalir dalam raga
''Anda tau apa yang membuat saya benci pada anda?Hanya satu''. Ucap gadis berparas Arab.
''Senyum anda, senyum serta tawa anda dikala saya terjatuh''. Lanjutnya.
''Disaat saya berharap anda menggandeng saya, namun anda berada dalam barisan orang yang meragukan saya".Ucapnya lagi.
''Saya tidak pernah menghitung setitik salah anda, tapi anda mengkalkulasikan celah saya''.Lanjutnya dengan linangan air mata.
Banyak sudah abjad-abjad yang terhempas,
dari lisan gadis berparas Arab itu
Namun lawannya sama sekali tak bergeming
Nampaknya gadis Cina ini,
sedang menahan hujan yang mendesak dari kelopaknya
Menyadari bahwa sosok yang bersila di hadapannya,
yang telah ia hempaskan atas ribuan keraguan
Menganggapnya bak permata dengan nilai yang melampau
Sesal, kesal nan malu
Melukis warna merah padam di kulit pucatnya
''Maaf, mungkin aku tidak peka, sehingga setiap pengorbananmu aku abaikan''. Ucapnya secara tiba-tiba.
''Aku sama sekali tidak menyadari ketulusanmu atasku,''Aku telah menyia-nyiakan kasih sayangmu terhadapku''. Ucapnya lagi.
''Dan terima kasih karena selama ini kau telah menganggapku sahabat'' Ucapnya mengahiri percakapan malam itu.