Selasa, 24 April 2018

SOTO QONA'AH PRIMADONA MAHASISWA UIN MALIKI MALANG

Hi Ngalamers. Siapa yang gak tau dengan makanan penggoyang lidah yang satu ini ''soto''? pastinya kalian semua pernah makan soto kan? rugi banget kalau lidah kalian gak pernah nyentuh sedapnya soto.

Jika kalian adalah salah seorang pecinta soto maka kalian harus coba soto yang kerap disebut ''Soto Qona'ah'' ini. Konon katanya soto Qona'ah telah menjadi primadona selama bertahun-tahun dikalangan mahasiswa khususnya mahasiswa UIN MALIKI Malang. Bukan hanya karena cita rasanya yang menggairahkan dan mampu menendang lidah melainkan juga harganya yang mumer (murah meriah), cukup dengan lima ribu rupiah lidah kalian akan bergoyang ria  dengan nikmatnya sensasi kuah yang bikin mabuk kepayang. Mungkin dari penampilannya soto Qona'ah ini terlihat biasa-biasa saja, ya gak sih? eitzz.. jangan salah biarpun begitu tapi rasanya maknyusss, hehe..

Kalau boleh jujur nih ya teman-teman, aslinya saya gak suka soto, tapi untuk pertama kalinya saya benar-benar jatuh cinta pada pandangan pertama sama yang namanya soto. Awal mulanya saya terpaksa hinggap di lesehan soto Qona'ah ini gara-gara uang bulanan saya sudah sangat menipis, dan dompet saya merengek agar isi perutnya ga dikuras. Tapi siapa sangka kalau lidah saya ini serasi dengan bumbu-bumbu ajaib dalam soto Qona'ah, rasanya jadi gak pengen move on deh. Yang awalnya cuma terpaksa sekarang uda jadi langganan bahkan jadi kewajiban buat makan soto Qona'ah. Oia teman-teman soto Qona'ah ini bukanya cuma dari pukul enam sampai sepuluh pagi, soalnya pagi-pagi sekali para mahasiswa uda pada ngantri bawa perut yang keroncongan minta dituangin soto Qona'ah, jadi wajar saja kalau jam segitu udah ludes.

Makanya guys jangan segan-segan buat nginjakin kaki dan bersila di lesehan soto Qona'ah ya!, ga bakal nyesel deh dijamin love love seketika.

Senin, 23 April 2018

PMII Rayon Perjuangan Ibnu Aqil dan Hari Kartini


Dua hari yang lalu tepatnya pada tanggal 21 April 2018 PMII Rayon Perjuangan Ibnu Aqil melaksanakan PKD (Pelatihan Kader Dasar) yang merupakan pengkaderan formal tingkat kedua setelah MAPABA (Masa Penerimaan Anggota Baru). Hal yang membuat PKD tahun ini terasa berbeda adalah dikarenakan pelaksanaan PKD bersamaan dengan Hari Kartini, hal ini menjadi kenangan tersendiri bagi kader-kader Aqil. Dalam rangka memperingati Hari Kartini Kopri Ibnu Aqil beserta seluruh kader-kader Aqil bersama-sama menyanyikan lagu wajib Nasional "Ibu Kita Kartini" dengan penuh hikmat, selain itu Kopri Ibnu Aqil juga mengadakan lomba membaca surat kartini dan puisi, dimana ini sudah dikonsep jauh sebelum menginjak bulan April. Kegiatan ini disambut dengan penuh semangat dan antusias yang tinggi oleh para kader Aqil, menggambarkan bahwa mereka sangat senang karena dapat memperingati Hari Kartini. Para anggota Kopri Ibnu Aqil menghargai partisipasi mereka dengan sebuah hadiah yang mungkin tiada nilainya dibanding kesediaan mereka dalam menyemarakkan Hari Kartini.

 


Selain itu seluruh kader Aqil wajib mengenakan batik bukan untuk menghormati budaya tapi dikarenakan pada saat ibu Kartini memperjuangkan emansipasi wanita, beliau mengenakan pakaian yang tradisional di jaman itu yaitu batik dan kebaya itulah mengapa setiap hari kartini kita di anjurkan untuk memakai batik. Ingat mengenakan batik saat Hari Kartini bukanlah sebuah pencitraan melainkan untuk memperingati dan mengenang perjuangan ibu Kartini. SELAMAT HARI KARTINI!.


Jumat, 06 April 2018

Kenangan


Kau melukis garis di atara kedua pipi ku, sangat indah katamu
Dengan ribuan persembahan penuh bunga yang bertabur dalam hati
Kau membuat tubuh ini melayang-layang bersama bintang
Rasanya kepala ini hendak pecah,
menahan sejarah yang harusnya telah menjadi debu
Raunganku memenuhi sejagat raya, akan rasa sesak yang mengalir,
bersama hujan rindu
Jendela mataku telah menerawang, menyadari kau tak lagi menggenggam tanganku
Bola mataku merekam mesranya kebersamaan sepasang Romeo dan Juliet
Yang tak lain adalah, dia yang dulunya milikku dan dia yang dulunya seperti sedarah denganku

Selasa, 03 April 2018

Percakapan Pribadi





Langit petang menjadi saksi perbincangan
Dua pasang bola mata menari-nari
Namun tak saling beradu
Mendung yang menyelimuti,
memperlihatkan rasa takut, cemas nan ragu
Angannya melayang di pucuk kepala
Menerka rasa yang terbendung dalam qolbu

Puluhan mata mengawasi penuh heran
Ketika dua gadis berparas ayu itu,
saling mencerca melontarkan amarah
Diiringi buliran sesal nan melodi yang tak beraturan,
oleh salah satu pemuda di Tropisland
Mungkin angin panas membuat mereka amnesia sesaat,
bahwa mereka berada ditengah-tengah para penggemar kopi
Yang tampak nyata petang itu,
hanyalah darah mendidih yang mengalir dalam raga

''Anda tau apa yang membuat saya benci pada anda?Hanya satu''. Ucap gadis berparas Arab.
''Senyum anda, senyum serta tawa anda dikala saya terjatuh''. Lanjutnya.
''Disaat saya berharap anda menggandeng saya, namun anda berada dalam barisan orang yang meragukan saya".Ucapnya lagi.
''Saya tidak pernah menghitung setitik salah anda, tapi anda mengkalkulasikan celah saya''.Lanjutnya dengan linangan air mata.

Banyak sudah abjad-abjad yang terhempas,
 dari lisan gadis berparas Arab itu
Namun lawannya sama sekali tak bergeming
Nampaknya gadis Cina ini,
sedang menahan hujan yang mendesak dari kelopaknya
Menyadari bahwa sosok yang bersila di hadapannya,
yang telah ia hempaskan atas ribuan keraguan
Menganggapnya bak permata dengan nilai yang melampau
Sesal, kesal nan malu
Melukis warna merah padam di kulit pucatnya

''Maaf, mungkin aku tidak peka, sehingga setiap pengorbananmu aku abaikan''. Ucapnya secara tiba-tiba.
''Aku sama sekali tidak menyadari ketulusanmu  atasku,''Aku telah menyia-nyiakan kasih sayangmu terhadapku''. Ucapnya lagi.
''Dan terima kasih karena selama ini kau telah menganggapku sahabat'' Ucapnya mengahiri percakapan malam itu.

Minggu, 01 April 2018

Cinta Sedarah





Ini tentang cinta sedarah, dimana dulu hampir tidak ada damai yang menyelimuti. Bukan karena kita saling membenci namun karena dua bersaudara ini tidak saling memahami satu sama lain. Namun entah kapan semua drama cinta yang penuh kasih sayang ini di mulai. Setiap perkelahian, umpatan kata kotor, cacian serta makian yang menjadi makanan sehari-hari kala itu berubah menjadi kehangatan yang selalu dirindukan, kami mulai bertukar fikiran bahkan bertukar baju. Tidak kini aku menyadari bahwa dulu kita bukan saling tidak memahami namun hanya saja kita tidak cukup dewasa untuk saling mengerti, kita tidak cukup stabil dalam mengendalikan emosi dan kita tidak cukup tau bahwa kebersamaan indah adanya. Seandainya kita tau bahwa kebersamaan itu seindah pelangi, semanis madu, dan selembut sutra takkan pernah kami tumpahkan luka diantara kita. Dengar kawan bahwa seseorang yang paling tulus menyayangi kita adalah mereka yang sedarah.
Satu pesanku tak perlu sesali apa yang telah lalu jadikan hal itu lukisan terindah dalam sejarah hidupmu karena tanpa lika-liku kehidupan semuanya akan terasa hambar.